Senin, 12 April 2010

Marhaen Makin Tenggelam

Matahari belum bersinar di ufuk timur. Ayam belum berkokok. Banyak orang pun belum terjaga dari tidurnya. Namun, Mang Darmin yang kini berusia 62 tahun sudah mengayuh sepeda ontelnya dari rumah menuju sawah.

Pagi-pagi benar, pukul empat subuh, dia sudah bergegas untuk menggarap tanah majikannya yang jauhnya lima kilometer dari rumahnya di Kelurahan Menggor No 28, RT 2 RW 3, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung.

Di tengah usianya yang semakin uzur itu, ia sudah tidak mungkin lagi mengayuh sepeda dengan cepat seperti waktu muda. Karena itu, paling tidak ia membutuhkan waktu satu jam lebih untuk sampai di sawah.

Ketika langit gelap dan orang- orang sudah tertidur lelap, dia juga harus menahan kantuk menjaga tambak majikannya. Saat panen datang, dia bahkan harus begadang dan tidak pulang.

”Saya sudah biasa kerja keras seperti ini,” ujarnya.

Sayangnya, sawah dan tambak yang terletak di Cikoneng itu bukan miliknya. Dia sekadar petani penggarap dan hanya memperoleh 10 persen dari hasil.

Dari sawah seluas 10 bahu atau sekitar 6 hektar yang digarapnya, dia memperoleh empat kuintal gabah kering senilai Rp 840.000, sedangkan dari tambak yang dia kerjakan, ia mendapat upah Rp 1 juta sekali panen.

Roda kehidupan berputar lambat. Nasibnya tak kunjung berubah. Meski sedari muda sudah membanting tulang sebagai petani penggarap, ia belum juga bisa merasakan nikmatnya menggarap tanah sendiri.

”Orang kecil mah malah makin tilelep (orang kecil semakin tenggelam). Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” ujar Darmin menerawang dan kemudian mengisap dalam-dalam rokoknya.

Legenda Marhaen

Masih ingat legenda tentang dialog antara Soekarno (Bung Karno) dan seorang petani miskin bernama Marhaen? Mang Darmin adalah salah satu cucu Marhaen itu.

Soekarno bertemu dengan Marhaen secara kebetulan ketika sedang berjalan-jalan di daerah Cigereleng, Bandung. Dia melihat seorang petani yang sedang menggarap sawah dan kemudian menghampirinya serta mengajaknya bicara.

John D Legge, mantan guru besar sejarah di Monash University Australia, dalam bukunya yang berjudul Sukarno A Political Biography juga mendeskripsikan pembicaraan Soekarno dengan Marhaen itu.

”Milik siapa tanah ini?” tanya Soekarno.

”Saya,” jawab Marhaen

”Cangkul ini milik siapa?”

”Saya.”

”Kalau peralatan-peralatan itu semua milik siapa?”

”Punya saya.”

”Hasil panen yang kamu kerjakan ini untuk siapa?”

”Untuk saya.”

”Apakah itu cukup untuk keperluan kamu?”

”Hasilnya pas-pasan untuk mencukupi hidup kami.”

”Apakah kamu juga bekerja menggarap tanah orang?”

”Tidak. Saya harus bekerja keras. Semua tenaga saya untuk lahan saya sendiri.”

”Tapi kawan, hidup kamu dalam kemiskinan?”

”Benar, saya hidup dalam kemiskinan.”

Sedemikian terkenalnya legenda ini sehingga bukan hanya terdengar di Indonesia, tetapi juga ke luar negeri. Marhaen juga dijadikan simbol oleh Soekarno untuk membangkitkan petani dan rakyat miskin. Berkembanglah faham marhaenisme.

Persoalannya, cita-cita Bung Karno untuk menjadikan kemerdekaan sebagai jembatan emas bagi segenap bangsa Indonesia untuk mencapai kemakmuran itu belum tercapai

Ki Marhaen mempunyai satu putra, yaitu Ki Udung, yang menikah dengan Arsama. Dari pernikahan itu, Ki Marhaen kemudian mendapat tujuh cucu. Darmin adalah cucu nomor tiga. Ia sendiri kini sudah memiliki empat cucu dan satu cicit. Artinya, sudah enam generasi keturunan Ki Marhaen.

Ironi Kemerdekaan

Dalam banyak buku, menurut Darmin, banyak yang menuliskan bahwa kakeknya itu punya sawah. Tetapi, yang ia dengar sendiri dari cerita ibunya, Arsama, kakeknya itu hidup dalam kemiskinan, tidak punya tanah sendiri.

”Mungkin karena ditanya Bung Karno, dijawab miliknya, padahal cuma kerja,” paparnya.

Saat Darmin hadir diundang ke sebuah pertemuan di Jakarta, ada juga yang mengaku-aku sebagai cucu Marhaen dan bergelar doktorandus dan insinyur. Padahal, kenyataannya, keturunan Marhaen itu untuk lulus sekolah dasar saja sudah setengah mati.

”Sebenarnya, lulus SD saja sudah hampir-hampir,” paparnya.

Menurut Darmin, dari tujuh bersaudara, hanya almarhum kakaknya, Darman, yang hidup cukup lumayan, yaitu sebagai tentara. Darman bergabung dalam Batalyon 328 dan pernah diterjunkan ke Irian Barat.

”Waktu berangkat pangkatnya prada, pulang jadi praka. Lainnya hanya buruh tani,” ujarnya.

Ayit, adik Darmin yang ditemui di rumahnya, di Kelurahan Menggor No 28, RT 2 RW 3, Kecamatan Bandung Kidul, juga bercerita banyak hal tentang kesulitan hidup yang dia hadapi.

”Ibu mah kieu wae. Bumi oge butut (Ibu itu seperti ini saja. Rumah juga jelek),” kata Ayit.

Dia selalu bermimpi mempunyai dapur yang baik, tetapi belum juga kesampaian karena hanya menjadi buruh tani.

Darmin dan Ayit menjadi bukti bahwa kemerdekaan yang dijanjikan belum memberikan banyak perubahan. Jikalau benar dialog Soekarno dengan Marhaen seperti ditulis di banyak buku, nasib cucu-cucu Marhaen berarti semakin buruk.

Kalau dulu sang kakek masih mempunyai tanah, generasi berikutnya tidak lagi. Tetapi, kalau versi yang diceritakan Darmin benar, berarti nasib Marhaen dan keturunannya tidak berubah, masih menjadi petani miskin yang hanya bisa hidup seadanya.

Sebuah ironi bagi faham marhaenisme yang pernah menjadi simbol perjuangan kebangkitan rakyat miskin pada masa Soekarno

Tidak ada komentar:

Posting Komentar